Indosat Indosat Indosat

Denny JA Komisaris Itu “Bukan Apa Yang Kau Ambil, Tapi Apa Yang Kau Sumbangkan”

Indosat

1. Denny JA Komisaris Filosofi Jabatan Komisaris: “Bukan Apa yang Kau Ambil, Tapi Apa yang Kau Sumbangkan”

Tangsel Denny JA Komisaris Budayawan dan tokoh intelektual, Denny JA, kembali menjadi perbincangan usai mengungkap pandangannya tentang tugas seorang komisaris. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia menekankan bahwa jabatan tersebut seharusnya lebih banyak memberi daripada mengambil.

“Komisaris bukanlah jabatan untuk mengeruk. Ia adalah tempat mengabdi. Ukurannya: kontribusi, bukan fasilitas,” tulisnya.

Indosat

Pernyataan ini menuai apresiasi dari publik yang mendambakan etos pengabdian di kursi kekuasaan.


 2. Opini: Komisi dan Kursi, Denny JA Menohok di Tengah Budaya Jabatan yang Transaksional

Di saat publik lelah dengan praktik “bagi-bagi kursi”, muncul suara berbeda dari Denny JA yang mengingatkan kita bahwa jabatan adalah amanah, bukan privilese.

“Yang membuatmu layak duduk di situ bukan seberapa besar gajimu, tapi seberapa besar sumbangsihmu.”

Pernyataan ini seperti tamparan halus bagi banyak pejabat yang masih melihat posisi komisaris sebagai ladang keuntungan pribadi, bukan ruang kontribusi.

Denny JA Dukung Pesan Presiden Untuk Komisaris BUMN | Mnctrijaya.com


Baca Juga: Wali Kota Tangsel Targetkan 300 Rb Pelajar Cek Kesehatan Gratis

3. Filosofi Komisaris ala Denny JA: Antara Amanah, Etika, dan Integritas

Dalam perspektif Denny JA, menjadi komisaris bukan hanya soal mengawasi jalannya perusahaan, tapi juga menginspirasi arah moral dan visi jangka panjang.

“Komisaris itu pemikul nilai. Ia harus menjaga agar keputusan besar tetap berpihak pada kebaikan,” katanya.

Ungkapan ini memperluas makna jabatan komisaris—bukan sekadar fungsi legal, tapi juga fungsi etik dan sosial.


 4. Denny JA Tegaskan: “Jabatan Komisaris Itu Tes Kepribadian”

Menurut Denny JA, jabatan tidak mengubah seseorang, tapi membuka topeng yang selama ini tersembunyi. Pernyataannya soal komisaris bukan hanya sindiran, tapi juga refleksi karakter.

“Apakah kau akan mengambil untuk diri sendiri, atau memberi untuk lebih banyak orang? Di situlah letak ujiannya.”


5. Pemikiran Denny JA dan Etika Jabatan: Mengembalikan Makna ‘Komisaris’ ke Jalur Pengabdian

Di tengah sorotan publik terhadap banyaknya pengangkatan yang dianggap politis, menyuarakan bahwa idealnya, seorang komisaris harus dipilih karena kualitas kontribusi, bukan kedekatan kekuasaan.

“Yang kita butuhkan adalah mereka yang mengerti arti sumbangan jangka panjang, bukan pencarian keuntungan instan.”


 6. Refleksi Bisnis:  Ingatkan Bukan ‘Tempat Istirahat’, Tapi ‘Tempat Berjuang’

Pernyataan Denny JA punya makna penting bagi dunia bisnis dan BUMN. Komisaris tidak boleh sekadar hadir secara administratif, tapi harus aktif memberikan arah, kontrol, dan nilai tambah.

“Setiap keputusan komisaris berdampak pada hidup ribuan orang. Maka, sumbangkan yang terbaik.”


 7. Netizen Apresiasi Ungkapan  Soal Komisaris: “Kami Butuh Pemimpin yang Memberi”

Ungkapan “bukan apa yang kau ambil, tapi apa yang kau sumbangkan” viral di media sosial. Warganet menyambutnya dengan pujian, menyebut pernyataan ini sebagai “pengingat di tengah kemunafikan politik.”

Komentar-komentar seperti:

  • “Akhirnya ada tokoh yang ngomong benar soal jabatan.”

  • “Jabatan tanpa kontribusi = beban negara.”


8. Makna Spiritual dalam Pernyataan Denny JA: Memberi Sebelum Meminta

mengajak publik untuk melihat jabatan—termasuk dari sudut pandang spiritual: pengabdian adalah panggilan jiwa. Bukan karena gaji, fasilitas, atau kekuasaan.

“Kalau niatmu duduk di kursi itu hanya untuk mengambil, maka sejak awal kamu salah arah.”


 9. Sindiran Halus?  Bicara di Tengah Isu ‘Bagi-bagi Kursi’

Beberapa pengamat menilai pernyataan sebagai kritik halus terhadap tren penunjukan yang tidak berdasarkan kapabilitas.

“Kalau banyak orang duduk hanya untuk mengambil, maka perahu perusahaan akan bocor oleh tikus-tikus rakus,” ujar salah satu aktivis menanggapi.


 10.  dan Roadmap Ideal: Sosok yang Tak Hanya Duduk, Tapi Turut Bekerja

Menurut  ideal harus:

  • Paham sektor yang diawasi

  • Aktif menyumbangkan ide dan pengawasan

  • Tidak silau oleh jabatan

  • Memiliki jiwa melayani

Indosat