1: Butuh Biaya Sekolah Demi Pendidikan Anak, Emak-Emak Lebak Ramai Jual Emas
Tangsel Butuh Biaya Sekolah Menjelang tahun ajaran baru 2025/2026, suasana pasar emas di Rangkasbitung tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena pembeli emas, melainkan karena para emak-emak yang datang untuk menjual perhiasan emas mereka demi kebutuhan perlengkapan sekolah anak-anak.
Salah satu warga, Siti, mengatakan dirinya menjual 3 gram emas untuk membeli seragam dan perlengkapan sekolah anaknya yang akan masuk SMP. “Kalau ada rezeki lebih sih beli lagi. Tapi kalau sekarang ya dijual dulu, kasihan anak kalau enggak dibeliin,” ujarnya.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Banyak warga Lebak memang mengandalkan simpanan emas sebagai “tabungan darurat” ketika memasuki momen penting, seperti masuk sekolah atau menjelang hari raya.
2: Ekonomi Mikro dan Ketahanan Rumah Tangga
Judul: Jelang Tahun Ajaran Baru, Emas Jadi Solusi Darurat Biaya Sekolah
RANGKASBITUNG – Di tengah tekanan ekonomi yang terus membayangi keluarga kelas menengah ke bawah, emas kembali menjadi penyelamat. Di Kabupaten Lebak, para ibu rumah tangga memilih menjual perhiasan emas mereka untuk menutupi kebutuhan tahun ajaran baru anak-anak.
Harga jual emas perhiasan saat ini mencapai Rp 1,7 juta per gram, menjadi insentif tersendiri bagi warga yang ingin menukar aset mereka dengan uang tunai. “Jual 1 gram emas Singapore bisa cukup untuk beli dua set seragam sekolah,” ungkap Dahliati, warga Kecamatan Warunggunung.
Pedagang emas, Ramdi Jayadi, membenarkan bahwa momen masuk sekolah dan Idul Fitri adalah saat paling sering masyarakat menjual emas. “Fenomena ini berulang tiap tahun,” ujarnya.

Baca Juga: 93 Peserta Ikut Kursus Pelatih Futsal Lisensi Nasional di Tangsel
Judul: Saat Emas Menjadi Harapan Terakhir Pendidikan Anak
Fenomena ibu-ibu menjual emas untuk biaya sekolah di Kabupaten Lebak membuka mata kita pada realitas mahalnya biaya pendidikan dasar. Meski sekolah negeri tidak memungut biaya pendidikan langsung, kebutuhan seragam, sepatu, buku, dan alat tulis masih menjadi beban besar bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan.
Siti, seorang ibu dari Rangkasbitung, menjual 3 gram emas karena harus membeli perlengkapan sekolah anaknya.
Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita belum sepenuhnya menjangkau keadilan sosial. Selama akses pendidikan masih dibebani biaya perlengkapan yang mahal, “emas emak-emak” akan terus menjadi pengganti negara dalam memastikan anak-anak tetap bisa sekolah.





